Sketsa hitam putih seekor kucing yang duduk sendirian di sudut dinding bangunan di bawah pengawasan kamera CCTV.

Kucing yang Menanggung Dosa

Seekor kucing telah dituduh. Ia tidak hadir dalam persidangan. Ia tidak bisa membela diri. Dan mungkin itulah mengapa ia dipilih.


Tujuh mobil tangki itu diamankan. Muatannya solar bersubsidi — jenis bahan bakar yang namanya selalu hadir dalam pidato-pidato tentang rakyat kecil, tentang nelayan yang melaut sebelum fajar, tentang petani yang mengoperasikan pompanya di sawah yang tidak pernah dikunjungi pejabat manapun. Solar itu, kata mereka yang berwenang, untuk yang membutuhkan.

Tapi tujuh tangki itu rupanya sedang dalam perjalanan menuju industri.

Ketika dikonfirmasi, Kapolsek membenarkan pengamanan itu. Ia berbicara dengan tenang, dengan kalimat-kalimat yang tertata. Dan di sela-sela keterangannya, ia menyebut bahwa CCTV kantor sedang tidak berfungsi. Alasannya — dikencingi kucing.

Sejenak, kita biarkan kalimat itu berdiri sendiri.


Tapi pikiran ini tidak bisa diam begitu saja.

Bagaimana seekor kucing bisa menjangkau kamera yang dipasang jauh di atas — di dinding, di plafon, di ketinggian yang bahkan makhluk yang jauh lebih besar darinya pun harus berpikir dua kali untuk mencapainya? Apakah urine kucing bekerja secepat itu, merembes masuk, menemukan bagian paling rentan dari sebuah perangkat yang memang dirancang untuk bertahan dari cuaca, dari hujan, dari panas? Dan bila memang sudah rusak sejak sebelumnya — mengapa baru disebut sekarang, tepat ketika ada yang perlu dilihat, tepat ketika ada yang perlu dibuktikan?


Ada sesuatu yang lebih mengusik dari sekadar apakah alasan itu benar atau tidak — yaitu kenyataan bahwa alasan itu disampaikan dengan tenang, kepada publik, tanpa rasa perlu untuk membuatnya masuk akal.

Sebab institusi ini bekerja dengan uang rakyat. Gajinya dari pajak. Operasionalnya dari pajak. CCTV yang kini disebut rusak itu pun, dibeli dari pajak. Dalam hubungan itu, rakyat adalah majikan — majikan yang tidak pernah dipandang cukup penting untuk diberi penjelasan yang layak.

Majikan yang tidak dihormati biasanya adalah majikan yang tidak punya kuasa memecat.

Dan selama ini, tampaknya, keyakinan itu tidak pernah keliru.


Seekor kucing telah menanggung tuduhan yang berat. Ia tidak tahu namanya disebut dalam sebuah keterangan resmi, pada hari ketika tujuh tangki solar bersubsidi diamankan di halaman kantor yang CCTV-nya mati.

Ia mungkin sedang tidur di bawah pohon. Atau mencari makan di gang-gang sempit yang tidak pernah masuk dalam laporan manapun, di antara orang-orang yang memang tidak pernah masuk dalam laporan manapun.

Ia tidak bersalah. Tapi ia sudah berguna — lebih berguna dari yang pernah ia sadari. Karena di negeri ini, seekor kucing pun bisa menjadi alasan resmi. Dan alasan itu, rupanya, sudah cukup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *