Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Ada sesuatu yang tidak beres di negeri ini. Bukan pada motornya, bukan pada orangnya — tapi pada cara kita memutuskan siapa yang berhak atas apa.
Motor itu sudah tua. Cat-nya mengelupas di beberapa bagian — bukan karena pemiliknya tidak peduli, tapi karena ia sudah lama belajar mendahulukan yang lebih penting daripada penampilan. Knalpotnya sesekali batuk, seperti orang yang telah memendam amarah terlalu lama dan sudah tidak tahu lagi harus marah kepada siapa.
Tapi ia masih berjalan. Sebab pemiliknya tidak punya pilihan lain selain membuatnya tetap berjalan.
Di SPBU itu, ia berhenti. Bukan di antrean yang panjang — ia memilih jalur yang sepi, yang nozzle-nya berwarna hijau gelap, yang harganya lebih tinggi dari yang seharusnya ia mampu bayar. Bukan karena mesinnya tidak bisa yang lain. Tapi karena ada rasa di dalam dadanya — rasa yang susah dinamai, semacam segan, semacam tahu diri — bahwa ada orang lain yang lebih berhak atas antrean itu daripada dirinya.
Seorang petugas datang, mengambil nozzle, dan mulai mengisi tangki motornya tanpa banyak bicara. Di jalur sebelah, motor-motor lain berjejer sabar menunggu giliran — ada yang baru mengilap, ada pula yang tidak jauh berbeda tuanya dengan miliknya. Mereka antre untuk sesuatu yang lebih murah — sesuatu yang kata pemerintah, untuk rakyat yang membutuhkan.
Ia berdiri menunggu, dan untuk sesaat matanya menelusuri deretan itu. Bukan dengan iri — atau mungkin iya, tapi bukan iri yang kasar. Lebih kepada sesuatu yang menyerupai bingung. Sebuah pertanyaan yang tidak ia ucapkan, sebab ia sudah terlalu lelah untuk mengucapkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan dijawab.
Negeri ini penuh dengan kebijakan yang lahir dari ruangan ber-AC, dari meja-meja panjang yang dikelilingi orang-orang yang tidak pernah mengalami apa yang mereka putuskan. Mereka bicara tentang tepat sasaran, tentang yang benar-benar membutuhkan, tentang keadilan distribusi — dengan bahasa yang indah, dengan grafik yang rapi, dengan keyakinan yang tidak pernah diuji oleh kehidupan nyata.
Petugas selesai. Ia membayar.
Dan saat ia hendak beranjak, matanya tertangkap sesuatu di sisi lain SPBU — sebuah jalur khusus, jalur untuk roda empat. Di sana, sebuah antrean lain sedang terbentuk. Mobil-mobil pribadi. Bukan mobil tua, bukan mobil sederhana. Ada yang catnya masih mengkilap, ada yang kacanya gelap rapat, ada yang rodanya saja sudah lebih mahal dari harga motornya. Mereka mengantre dengan sabar, mesin menyala, menunggu giliran mengisi bahan bakar bersubsidi.
Ia berdiri sejenak.
Sesuatu bergerak di dalam dadanya — bukan kemarahan, bukan juga kesedihan. Lebih kepada sebuah kesadaran yang datang perlahan, seperti air yang meresap ke dalam tanah: bahwa mungkin ia terlalu miskin untuk bisa menikmati subsidi.
Bukan karena aturan melarangnya. Tapi karena ia sendiri yang merasa tidak enak hati — sementara yang tidak merasa tidak enak hati, justru dengan tenang mengisi tangki mobilnya di jalur sebelah.
Ia tidak marah. Atau mungkin ia sudah lupa bagaimana cara marah dengan benar — marah yang mengubah sesuatu, marah yang didengar, marah yang lebih dari sekadar kelelahan yang memakai topeng kemarahan.
Ia hanya kembali ke motornya, menyalakannya, lalu pergi — seperti biasa, seperti selalu, seperti memang begitulah dunia bekerja bagi orang-orang seperti dia. Motor tuanya kembali batuk sekali saat dinyalakan, lalu melaju pelan, meninggalkan SPBU itu beserta semua yang ia lihat di sana.
Tidak ada yang memperhatikannya pergi.