Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Kerja bakti adalah hadiah bagi orang malas dan hukuman bagi yang rajin.
Parit di depan rumah Pak Udin tidak pernah tersumbat. Tak seorang pun tahu sebabnya, dan tak seorang pun merasa perlu bertanya. Plastik jajanan yang dibuang anak-anak tetangga selalu lenyap sebelum subuh. Rumput liar di bahu gang selalu pendek, seakan tanah itu sendiri tahu diri. Warga menyebutnya keberuntungan, sebagaimana mereka menyebut hujan deras yang tak pernah membuat gang mereka banjir sebagai berkah dari langit.
Hanya Pak Udin yang tahu bahwa semua itu adalah punggungnya. Ia mengerjakannya sepulang kerja, sedikit demi sedikit, dengan tenaga yang tersisa dari hari yang sudah menghabiskan banyak tenaga, dan tidak pernah menyebut-nyebutnya pada siapa pun. Orang tidak melaporkan bahwa ia bernapas.
Di ujung gang, Pak Panjul punya pendapat sendiri tentang dunia, dan ia menyampaikannya dengan suara yang terdengar sampai ke pos ronda. “Bukan saya yang buang sampah, kenapa saya yang bersihkan?” katanya. Atau, “Parit itu bukan tanah saya.” Ia bukan orang jahat. Ia hanya yakin, sepenuh hati, bahwa kewajiban berhenti tepat di batas pagar rumahnya, pagar yang ia cat ulang setiap menjelang Agustusan.
Suatu malam, sebuah pesan masuk ke grup warga. Pak RT mengumumkan kerja bakti hari Minggu, pukul tujuh pagi. Yang tidak hadir dikenakan iuran Rp50.000. Dalam hitungan menit, pesan itu dibalas belasan jempol dan satu stiker orang membungkuk hormat.
Pak Udin membaca pesan itu di teras, lama. Sudah enam minggu ia tidak libur. Tiga kali ia berjanji pada anak dan istrinya akan pergi, dan tiga kali janji itu tertunda oleh hal-hal yang selalu terasa lebih mendesak. Malam itu istrinya hanya berkata pelan, “Tidak apa-apa kalau tidak jadi, Pak.” Kalimat itu lebih berat daripada protes mana pun.
Minggu subuh, mereka berangkat. Anak bungsunya tertidur di pangkuan sepanjang jalan, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, Pak Udin tidak memikirkan apa-apa. Tidak parit. Tidak plastik. Hanya jalan yang terbentang dan tubuh kecil yang hangat di pangkuannya.
Sementara itu di gang, Pak Panjul berdiri paling depan dengan cangkul yang mata besinya masih mengilap, belum pernah mengenal tanah. Ia hadir sebelum pukul tujuh. Ia tertawa, mengangkat karung yang sudah diisi orang lain, lalu berfoto bersama dengan cangkul teracung. Piring-piring gorengan dan teh manis berpindah dari tangan ke tangan.
“Beginilah warga teladan,” kata Pak RT sambil menepuk bahunya. “Peduli lingkungan.”
Foto itu masuk ke grup warga sebelum tengah hari.
Senin sore, Pak Udin pulang dengan kulit sedikit terbakar dan keripik oleh-oleh untuk tetangga. Di depan warung, percakapan berhenti ketika ia lewat.
“Enak ya, yang lain kerja keras, ada yang piknik,” kata seorang ibu, tidak terlalu pelan.
Malamnya Pak RT datang membawa buku catatan. “Maaf, Pak Udin. Aturan tetap aturan.”
Pak Udin membuka dompet dan menyerahkan selembar lima puluh ribuan. Tidak ada yang ia jelaskan. Tentang parit, tentang bertahun-tahun, tentang subuh-subuh yang tak pernah dilihat siapa pun. Ia hanya mengangguk, dan Pak RT pergi dengan wajah puas orang yang baru saja menegakkan keadilan.
Selasa malam, hujan turun. Dari terasnya, Pak Udin melihat air di parit mulai tertahan oleh segumpal plastik yang lolos dari kerja bakti hari Minggu. Ia diam sebentar. Lalu ia mengambil sarung tangan lusuhnya dari balik pintu, berjalan ke dalam gelap, dan membungkuk.
Besok paginya, warga akan berdiri di tepi parit yang bersih, dan seseorang akan berkata, “Hasil kerja bakti kita memang tidak pernah mengecewakan.”
Pak Udin akan mengangguk, seperti biasa.