Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Lima tahun.
Lima tahun sejak rudal-rudal itu hampir menghapus pantai timur Amerika dari peta dunia. Lima tahun sejak seorang prajurit muda bernama Soap berdiri di atas jembatan berlumuran darah, menembak pria yang hampir membakar peradaban.
Dunia bersorak. Parade digelar. Medali dibagikan kepada orang-orang yang tepat dan kepada orang-orang yang salah dalam porsi yang sama.
Dan Kapten Price — pria yang sesungguhnya menyelamatkan dunia malam itu — membusuk di dalam penjara militer paling terpencil di Rusia. Tanpa pengadilan. Tanpa pembelaan. Tanpa nama.
Begitulah cara dunia membalas jasanya.
Tapi tidak ada yang peduli. Karena dunia sudah melanjutkan hidupnya. Dunia selalu melanjutkan hidupnya — bahkan di atas kuburan orang-orang yang mengorbankan segalanya untuknya.
Dan di tengah dunia yang lupa, Vladimir Makarov tersenyum.
Dia sedang merencanakan sesuatu.
Perkenalkan Joseph Allen — prajurit muda Amerika yang baru saja menyelesaikan tugasnya di Afghanistan dengan gemilang. Wajahnya masih muda. Matanya masih percaya bahwa ada hal-hal yang layak diperjuangkan.
Jenderalnya — Shepherd — memanggilnya secara pribadi. Bukan penghargaan biasa. Ini undangan eksklusif masuk ke dalam program paling rahasia yang dimiliki CIA.
“Kami butuh seseorang yang bisa menyusup ke dalam lingkaran Makarov,” kata Shepherd dengan suara yang terdengar seperti kehormatan. “Orang kami. Di dalam sana.”
Allen tidak tahu bahwa dia sedang dipilih bukan karena dia yang terbaik.
Dia dipilih karena dia yang paling bisa dikorbankan.
Bandara Zakhaev International. Moskow.
Allen berdiri di antara empat pria bersenjata berat. Mereka berjalan masuk melalui pintu lift yang terbuka, dan di depan mereka — ratusan warga sipil. Turis. Keluarga. Orang-orang yang pagi itu hanya ingin mengejar penerbangan mereka.
Makarov berbalik dan berkata dengan tenang, hampir berbisik:
“No Russian.”
Dan kemudian neraka pecah.
Tembakan demi tembakan. Tubuh demi tubuh. Orang-orang berlari, jatuh, merangkak, menangis, dan berhenti bergerak. Darah mengalir di lantai marmer yang mengkilap. Koper-koper berserakan. Foto keluarga jatuh dari dompet yang terlepas dari genggaman tangan yang sudah tidak bisa menggenggam apapun lagi.
Allen ada di sana. Allen menyaksikan semua itu.
Dan dia tidak bisa berbuat apa-apa — karena tugasnya adalah tetap menyamar, tetap dipercaya, tetap hidup cukup lama untuk melaporkan informasi yang tidak pernah sempat dia laporkan.
Karena ketika semua sudah selesai — ketika korban sudah tergeletak dan Makarov sudah puas —
Makarov berbalik menghadap Allen.
Dan menembaknya tepat di kepala.
“Aku tahu kamu agen CIA,” katanya dingin, seolah mengucapkan selamat pagi.
Lalu dia meninggalkan mayat Allen di tengah-tengah lautan darah yang dia sendiri ciptakan — memastikan identitas Allen ditemukan oleh polisi Rusia. Memastikan seluruh dunia tahu bahwa Amerika ada di balik pembantaian ini.
Allen tidak pernah tahu bahwa dia sudah mati jauh sebelum peluru itu menembus kepalanya. Dia mati di hari Shepherd memilihnya. Dia hanya belum tahu jadwalnya.
Dan dengan satu mayat yang diletakkan dengan sangat strategis, Makarov berhasil melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh senjata nuklir manapun — dia membakar kepercayaan antara dua negara adidaya sampai menjadi abu.
Rusia murka.
Bukti sudah ada — mayat agen CIA di tengah pembantaian sipil mereka. Tidak ada yang mau mendengar penjelasan. Tidak ada yang mau menunggu investigasi. Rasa sakit terlalu segar, terlalu dalam, terlalu nyata.
Rusia menginvasi Amerika Serikat.
Bukan metafora. Bukan ancaman. Pasukan Rusia mendarat di pantai timur Amerika dalam gelombang yang tidak terhitung. Helikopter-helikopter muncul di langit Virginia. Jalan-jalan suburban yang biasanya hanya dilalui mobil keluarga kini penuh dengan tank.
Di suatu tempat di pinggiran kota Amerika yang biasa — di halaman belakang rumah yang masih ada ayunan anaknya — seorang Ranger bernama James Ramirez berjuang mempertahankan tanah airnya sendiri.
Bukan di negeri orang. Bukan di gurun yang jauh.
Di rumah.
Washington D.C. berdarah. Monumen-monumen yang harusnya hanya ada di buku pelajaran sejarah kini menjadi medan perang. Dan ribuan prajurit Amerika mati — bukan untuk membebaskan orang lain, tapi untuk bertahan hidup di negeri mereka sendiri.
Ini adalah mimpi buruk yang tidak pernah ada dalam perhitungan siapapun.
Kecuali Makarov. Karena ini memang rancangannya.
Sementara Amerika terbakar, di sudut lain dunia, sebuah unit hantu bekerja dalam keheningan.
Task Force 141.
Tidak ada bendera. Tidak ada upacara. Hanya nama-nama sandi, wajah-wajah yang tidak ada di database resmi, dan misi-misi yang tidak akan pernah ada di koran manapun.
“Soap” MacTavish — bukan lagi prajurit baru yang gemetar di atas jembatan. Kini dia letnan berpengalaman, dengan bekas luka yang cukup banyak untuk diceritakan tapi tidak pernah dia ceritakan kepada siapapun.
Di sisinya: “Ghost” — pria dengan topeng tengkorak di wajahnya, yang lebih banyak diam tapi selalu ada di tempat yang paling dibutuhkan. Dia adalah jenis prajurit yang namanya tidak ada di plakat penghargaan, tapi tanpanya semua orang sudah mati.
Dan memimpin semua ini dari balik layar: Jenderal Shepherd. Pria dengan rahang baja dan mata yang terlihat seperti milik seseorang yang sudah terlalu lama menanggung beban dunia.
Mereka memburu Makarov ke seluruh penjuru bumi. Brasil. Afghanistan. Siberia. Setiap jejak, setiap intel, setiap nama yang muncul dalam jaringan Makarov — mereka kejar sampai ke ujung dunia.
Tapi Makarov seperti hantu. Selalu selangkah lebih jauh. Selalu tahu bahwa mereka datang.
Karena seseorang selalu memberitahunya.
Di tengah kekacauan, sebuah intel mengejutkan muncul.
Price masih hidup.
Lima tahun di penjara paling brutal Rusia — sebuah Gulag di tepi jurang, di mana waktu tidak berlalu melainkan hanya membusuk — dan Price masih bernafas. Masih berdiri. Masih dia.
Soap tidak berpikir dua kali.
Mereka menyerbu Gulag itu dengan cara yang hanya bisa digambarkan sebagai kegilaan yang terorganisir. Bangunan tua itu berguncang. Penjaga-penjaga tumbang. Dan di salah satu sel yang paling dalam, paling gelap, paling terlupakan —
Price keluar.
Lebih kurus. Lebih tua. Dengan luka-luka yang tidak semuanya bisa dilihat mata.
Tapi matanya — matanya sama persis seperti lima tahun lalu. Dingin, tajam, dan penuh dengan sesuatu yang tidak bisa dibunuh oleh penjara manapun.
Dendam yang sabar.
Dan hal pertama yang dilakukan Price setelah bebas? Dia mencuri sebuah rudal Rusia dan menembakkannya ke atmosfer — menciptakan gelombang elektromagnetik yang melumpuhkan seluruh armada invasi Rusia di Amerika.
Ribuan tentara Rusia tiba-tiba kehilangan komunikasi, navigasi, koordinasi. Invasi yang hampir berhasil itu — runtuh dalam hitungan menit.
Bukan presiden yang menyelamatkan Amerika. Bukan jenderal berbintang yang namanya ada di koran.
Seorang pria yang baru keluar dari penjara — itulah yang menyelamatkan Amerika.
Dan tidak ada yang akan pernah tahu.
Mereka hampir berhasil.
Soap dan Ghost berhasil mengambil hard drive berisi seluruh jaringan operasi Makarov — nama, lokasi, rencana. Semua yang mereka butuhkan untuk mengakhiri semua ini selamanya.
Mereka membawa hard drive itu ke titik ekstraksi. Lelah. Berdarah. Tapi hidup.
Shepherd sudah menunggu.
Ghost menyerahkan hard drive. Dan kemudian —
Satu tembakan.
Ghost jatuh.
Tidak ada teriakan dramatis. Tidak ada kata-kata terakhir yang puitis. Ghost — pria yang topeng tengkoraknya sudah menjadi simbol ketakutan bagi semua musuh mereka — jatuh ke tanah seperti kantong yang dikosongkan.
Shooter-nya bukan Makarov. Bukan tentara Rusia.
Shepherd sendiri yang menarik pelatuk.
Soap mencoba bergerak tapi sudah terlambat — peluru menembus tubuhnya. Dia jatuh. Tubuhnya dilempar ke dalam lubang yang sudah digali sebelumnya — sebelumnya, artinya ini sudah direncanakan jauh hari — bersama tubuh Ghost.
Dan kemudian api.
Shepherd membakar mereka berdua dengan tenang, seperti seorang pria yang sedang membakar dokumen yang tidak lagi berguna.
Karena bagi Shepherd, itulah yang mereka — Ghost, Soap, seluruh Task Force 141 — selalu hanya dokumen. Alat. Aset yang bisa dibuang setelah tugasnya selesai.
Di sanalah terungkap kebenaran yang paling pahit dari semua ini:
Shepherd bukan pahlawan yang dikotori oleh perang. Dia adalah monster yang memakai topeng pahlawan sejak awal.
Dia sengaja membiarkan Allen mati. Dia sengaja membiarkan invasi Rusia terjadi. Dia butuh perang — perang besar, perang yang membuat Amerika ketakutan dan marah — karena hanya dengan itu dia bisa mendapatkan anggaran tak terbatas, kekuasaan tak terbatas, dan nama yang akan diukir dalam sejarah sebagai penyelamat bangsa.
Ribuan nyawa — ribuan nyawa — adalah harga yang dengan sangat sadar dia setujui untuk dibayar.
Bukan Makarov yang paling berbahaya dalam cerita ini. Makarov membunuh karena benci. Shepherd membunuh karena kalkulasi. Dan tidak ada yang lebih dingin dari pembunuh yang tidak membenci korbannya.
Soap tidak mati.
Entah bagaimana — mungkin karena alam semesta belum selesai menyiksanya — dia selamat. Price menemukannya. Keduanya, dengan luka yang lebih dari cukup untuk membunuh manusia biasa, memburu Shepherd.
Ini bukan lagi misi resmi. Tidak ada komando di atas mereka. Tidak ada negara yang memerintahkan. Tidak ada lencana atau bendera.
Ini personal.
Mereka mengejar Shepherd ke Afghanistan. Pertempuran di sana brutal dan tanpa ampun. Soap terluka semakin parah dengan setiap langkah.
Tapi Shepherd tidak bisa kabur selamanya.
Di tepi sungai, dalam perkelahian yang paling primitif — tidak ada teknologi militer, tidak ada strategi, hanya dua pria dan naluri untuk bertahan hidup — Shepherd menindih Soap. Tangannya mencekik. Matanya dingin.
Soap meraih sesuatu yang tertancap di dadanya — pisau yang ditusukkan Shepherd ke tubuhnya sendiri.
Dengan sisa tenaga yang tidak seharusnya masih ada, dia melemparkannya.
Pisau itu menancap tepat di wajah Shepherd.
Jenderal berbintang itu — arsitek dari ribuan kematian, pria yang menjual nyawa bawahannya demi ambisinya sendiri — mati dengan pisau di wajahnya, di tepi sungai yang tidak ada namanya di peta.
Tidak ada parade untuknya. Tidak ada pemakaman kenegaraan.
Hanya dua prajurit yang kelelahan, duduk di tanah, berdarah, dan masih entah bagaimana masih bernafas.
Shepherd mati.
Tapi dunia tidak tahu. Tidak akan pernah tahu. Karena kebenaran tentang Shepherd — tentang bagaimana dia merekayasa perang demi ambisinya sendiri — adalah kebenaran yang terlalu memalukan untuk diakui oleh siapapun.
Price dan Soap kini buronan. Dua pria yang menyelamatkan dunia untuk kedua kalinya — dijadikan target oleh dunia yang sama yang mereka selamatkan.
Ghost sudah mati. Roach sudah mati. Task Force 141 sudah dibubarkan oleh tangan penghianat yang sama yang menciptakannya.
Dan Makarov?
Makarov masih hidup.
Masih di luar sana. Masih merencanakan sesuatu. Masih tertawa pelan di suatu tempat yang tidak ada di peta, di atas semua kehancuran yang sudah dia ciptakan dan semua kehancuran yang belum.
Ini bukan akhir.
Ini tidak pernah akhir.
Untuk orang-orang seperti Price dan Soap, tidak ada akhir. Hanya ada misi berikutnya — atau kematian. Dan sejauh ini, kematian selalu kalah tipis. 🖤