Presiden Jokowi Gelar Sidang Kabinet Bahas Kelanjutan PPKM Darurat

  • Whatsapp



PPKM Darurat akan selesai 20 Juli 2021. Hingga kini, nasib kelanjutan PPKM Darurat belum ada keputusan resmi.
#PPKMDarurat #Istana #Covid19

Jangan lewatkan live streaming BeritaSatu News Channel 24 jam non stop di

Bacaan Lainnya

Pastikan kamu subscribe dan aktifkan juga tombol lonceng untuk mendapatkan notifikasi video terbaru dari BeritaSatu.

Kunjungi juga social media channel kami :

Official Website:
Twitter :
Facebook :
Instagram :

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=z0w75Evwuws

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

43 Komentar

  1. STOP saja pak PPKM ini. Jangan di tambah lagi penderitaan rakyat. Rakyat sdh capek hidup menderita, usaha bnyk yg di tutup,krja tidak bisa,Dagangan Sepi Pembeli. Yaallah kami mohon pak Prsiden

  2. hancur sudah Indonesia ku di tangan pemerintah dan rezim GILA ini.
    maafkan kami utk para pejuang yg dulu mati2 an me- merdeka kan bangsa ini… dan saat ini dikacaukan oleh pemerintah LAKNAT ini.

  3. Lebaran haji dah lewat siapa yg berani taruhan kuping dalam beberapa hari kedepan pasti congorna menurun melonjak lgi pas natal dan tahun baru…. natal dan tahun baru dah lewat melonjak lgi lebaran…. begitu ja seterusnya sampai kita rakyat miskin mati kelaparan

  4. Kita pasti bisa, STOP PPMK darurat

    Covid itu ADIL, tidak pandang bulu, semua golongan bisa kena, tapi keringanan pajak, stimulus ekonomi, bantuan sosial, predikat sektor esensial itu, belum tentu semua yang berhak mendapatkannya. Bahkan terkadang yang mendapatkannya pun sebenarnya tidak berhak.

    Mobility index itu sudah tidak relevan dan tidak efektif lagi. Karena yang dibatasi dan diukur hanya macro mobilitynya. Tahu dari mana data mobility dari google atau facebook itu memberikan data yang akurat, dan buka pesanan negara atau kelompok tertentu, mereka itu kan "close source". Pembatasan macro mobility itu dahulu efektif mencegah angka penularan dari DKI ke daerah2. Sekarang penularan sudah bukan antar kota antar propinsi yang utama, yang utama terjadi itu di RT/RW. Rakyat berkumpul, menghabiskan waktu bersama, banyak melakukan kegiatan non produktif, karena tidak bisa pergi bekerja atau belajar. Coba minta data shopee, gojek, grab, perusahaan pengantaran barang atau orang lainnya, ajak kerja sama, driver/kurirnyanya wajib genose tiap hari khususnya di kota2 besar. Mereka bebas berkeliaran kemana-mana membantu kita, tapi saat tidak ada orderan mereka "mangkal", ngobrol, ngopi & ngerokok digang-gang dan sering lalai terhadap prokes. 'Tuntut' perusahaan-perusaahaan itu menciptakan algoritma untuk menunda jatah orderan bagi driver yang terpantau di GPS 'ngumpul2'.

    Tidak semua sektor bisa langsung bertransformasi menjadi daring. Wong selama ini industri telekomunikasi masih menganak emaskan perusahaan plat merah. Mereka sibuk memperkaya para direksi sedangkan jaringan-jaringan dipedesaan "asal ada" dan masih mahal karena swasta kalau mau "masuk" pasti costnya lebih tinggi.

    Kami rakyat kecil ini bukan tidak percaya dengan covid. Tapi kami muak dengan pihak2 yang berusaha mempolitisasi, mengambil keuntungan, hanya memikirkan keselamatan keluarga atau golongannya sendiri. Sedikit2 kami ditakut2i dengan ayat dan mayat. Sedikit2 acam lockdown sebagai satu2nya solusi. Padahal lockdown hanya akan membawa keselamatan bagi yang 'berada'. Sedangkan kami yang hanya bisa berharap pada antibody tubuh yang sudah Tuhan anugrahkan, itupun tidak boleh kami manfaatkan.

    Buat rakyat kecil lebih baik kami mati karena covid daripada mati karena kemiskinan dan kelaparan. Kalau anda sakit karena covid, negara dan nakes pasti akan cepat menangani dan menolong anda dengan berbagai fasilitas. Sedangkan saat kami sakit selain covid, kami harus pusing memikirkan biaya perawatan dan pendapatan yang terus berkurang. Kalau kami mati karena covid pasti negara hadir dan sudah mempersiapkan protokol penguburan kepada kami. Sebaliknya saat kami mati karena kelaparan atau kemiskinan, tidak akan ada yang peduli. Yang ada hanya keluarga atau orang-orang terdekat kami yang harus pontang-panting mencari tambahan untuk pemakaman itu pun kami harus ditambah pungli di mana-mana.

    Untuk komentator dan pengamat yang mengusulkan lockdown atau PPKM darurat diperpanjang dengan argumen nanti setelah covid mereda perekonomian bisa berjalan kembali, saya mau bertanya, perekonomian siapakan yang nanti bisa bangkit kembali, kira2 perekonomian kalian atau perekonomian rakyat kecil yang sudah habis2an. Dan kalaupun setelah PPKM ini tidak ada bakti sumbangsing kalian buat perekonomian masyarakat kecil di sekitar kalian nanti, lebih baik kalian potong saja lidah kalian sendiri, daripada hanya digunakan untuk 'menuntut' pemerintah menyetop proyek padat karya dan mengalihkannya untuk "bancakan" dengan dalih bantuan keadaan darurat.

    Sebanyak apapun bantuan uang/barang yang diturunnkan tidak akan pernah cukup jika tidak ada administrasi keadilan sosial yang baik. Jika semua pengusaha dibantu tidak akan pernah cukup anggaran negara ini memuaskan 'napsu' mereka. Berikan saja reward bagi usaha2 yang mau menetapkan prokes. Tumbuhkan usaha2 baru yang bisa menjaga prokes sebanyak mungkin, biarkan mereka menyerap tenaga2 dari perusahaan yang 'rakus' ditengah pandemi ini. Negara pun tidak sibuk mengurusi pelanggar biarkan seleksi alam bekerja, wong penjara aja udah over kapasitas. Negara harusnya sibuk mengurusi menghadiahi orang-orang yang membantunya melawan covid. Tidak perlu ngurusin BEM yang suaranya cempreng nggak jelas kayak bayi nangis. Berikanlah ATENSI penuh dan dukungan industrialisasi bagi mahasiswa2 yang mau melakukan terobosan seperti genose, vaksin nusantara, dan lain-lain.

    Untuk Bapak yang baik, perbanyaklah genose, jadikan tracing dengan genose sebagai gerakan masal. Kantor, terminal, bandara, mall, resto, cafe wajib menyediakan tracing dengan genose. Jangan hanya bergantung pada "senjata infra merah" yang kebanyakan diimpor, atau swab antigen yang sakit saat digunakan dan semakin menguntukan pedagang besar atau pun pemain lama industri farmasi.

    Mahal itu belum tentu bagus/akurat, tapi sebagai negara yang sejak kecil diajarkan "prinsip ekonomi jahat", mahal itu berarti peluang 'cuan' besar. (https://www.youtube.com/watch?v=iY3Feeyf1PA)

    Jika genose menjadi gerakan masif ongkos tracing akan menjadi lebih murah. Pengembangan teknologi dan 'jam terbang' pun akan semakin meningkatkan keakurasian genose. Negri ini bisa menjadi penolong bagi rakyatnya dan juga bisa menjadi penolong bagi negri lain yang sama2 menghadapi badai covid ini.

    Bantulah vaksin nusantara untuk segera masuk uji klinis 3 dan segera jadikan gerakan masal. Kami juga senang kok bisa mendapat sertifikasi vaksin, tapi kami lebih senang jika itu berasal dari vaksin hasil pemikiran anak negri sendiri.

    Mengapa vaksin2 import itu bisa kita terima dan pakai, padahal uji klinis 1 nya dilaksanakan di negara asalnya. Mengapa kita bisa gigih bertarung memperebutkan vaksin2 import tapi tidak mau memperjuangkan percepatan vaksin nusantara. Memangnya vaksin2 import itu tidak melalui proses akselerasi???

    Mengapa harus dipaksakan uji ada klinis pada hewan, yang sejatinya tidak perlu dan bahkan sudah berhasil dalam uji klinis pada manusia????

    https://www.youtube.com/watch?v=zbkZ-t55O6U Ironi sekali, orang luar sendang menghormati penemu dan pengembang astrazeneca yang menyumbangkan paten dan royaltinya untuk dunia, sedangkan badan pemerintah ini sibuk menghalangi inovasi anak bangsanya, wajar kalau rakyat berpendapat badan pemerintah itu sudah bermain politik kotor dan berpihak pada golongan2 tertentu.

    Selama kemampuan produksinya dunia masih jauh dibawah permintaan, vaksin akan menjadi "komuditas" yang diperdagangkan dalam "pasar politik kotor" dan pasti akan banyak yang melakukan "penimbunan".

    Bapak berteriak kedalam negri untuk berinovasi, berteriak keluar negri agar negri2 lain tidak 'rakus' dan adil berbagi vaksin dengan negara2 lain khususnya negri2 miskin. Padahal, anak negri bapak telah menyodorkan solusi yang aman, cepat dan murah. Bapak pun bisa lantang berbagi teknologi ini dengan negri2 yang membutuhkan dan tidak sanggup bekerja sama dengan "gurita-gurita farmasi" dunia.

    Bukalah sekolah2, biarkan mereka datang dan belajar melatih protokol kesehatan, supaya prokes menjadi "habit" bagi anak2, nanti mereka yang akan menjadi agen2 perubahan di rumah. Ajar mereka bagaimana mengingatkan orang tuannya dengan sopan, biarkan mereka yang mengajarkan orang tuanya. Biarkan mereka menngajarkan ibunya bagaimana protokol kesehatan menerima belanjaan online, Atau mengajarkan ayahnya bagaimana protokol masuk kerumah saat pulang dari kerja. Sebagian besar orang tua akan lebih terbuka belajar prokes dari anak2 mereka daripada dari belajar dari satpol PP, pengamat di tv, ataupun nakes. Wong selama ini kalau anak minta kendaraan saja walau belum cukup umur banyak yang dikabulkan kok. Ya memang mungkin nanti akan ada anak-anak yang tertular, tapi toh sekarang dibatasipun masih banyak anak yang tertular dan menularkan, karena mereka sehari2 di lingkungan RT/RW mereka masih bebas berkeliaran. Bahkan bersama-sama geng motor mereka menyerang aparat.

    Sayang sekali, melihat cara Bapak memBIARkan anak Bapak meng-ghosting anak orang & tidak ada tata krama untuk berpamitan dengan baik, kami jadi pesimis, jangan2 suara kami rakyat kecil pun akan diBIARkan.

    Semoga saja ini hanya kami yang terlalu "neting"

  5. Sekedar usul : Tlg pemerintah lebih flexible atau obyektif lagi dalam mencari penyebab lonjakan Covid 19, serta mencari solusi paling efektif untuk mencegah dan menanggulangi lonjakan covid 19, misal kita bedah dari sebab akibat, kenapa terjadi pelonjakan yg tinggi utk covid 19 yg dari datanya menyebutkan bahwa pelonjakan terjadi karena vairan baru yg di sebut delta :
    1. Apakah karena kurangnya kesadaran masyarakat dalam menaati prokes guna untuk menghindari penularan covid 19 yg faktanya varian delta ini penularanya luar biasa lebih cepat dari varian sebelumnya, atau mungkin kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan dalam rangka mencegah penularan covid 19 varian baru serta penyakit lainya.
    ( tentunya memang harus ada penggalakan edukasi yg efisien utk menjaga prokes dan menjaga kesehatan dari pusat ke lingkup terkecil misal keluarga, rt, lurah, camay, bupati sampai lingkup terpusat dengan memanfaatkan teknologi yg akan ngirit biaya ).
    2. Apakah Prosedural penanganan Covid dari lingkup paling kecil yaitu keluarga terpapar yg Isolasi mandiri atau seseorang yang Isolasi bersama di tempat tertentu sampai tahap yang terpapar kenapa harus di rujuk di rumah sakit,
    ( perlu adanya Evaluasi yang sangat mendalam lagi mengenai tata cara prosedur utk masyarakat yang terjangkit, misal di bagi dengan beberapa kelompok misal :
    a. orang yang tanpa gejala harus di mana, harus di riset apakah orang yang tanpa gejala ini menularkan atau tidak, b. terpapar tapi ada gejala ringan harus di tempatkan di mana agar tidak terjadi penularan, serta bagaimana pemerintah daerah dari kelompok terkecil dalam menyediakan tempat isolasi serta seluruh fasilitas ysng di perlukan untuk kesembuhan pasien seperti tempat tidur, obat2an, vitamin, makanan, oksigen ruang olahraga darueat, psikolog utk meningkatkan mental para pasien dll ( karena kebanyakan orang yg terpapar covid 19 faktanya mentalnya down ), serta edukasi penanganan tepat dan edukasi mental serta fasilitas yang standart baik perlatalan, serta vitamin utk para tenaga kesehatan dan relawan kesehatan agar terjaga stamina dan minim resiko tertular )
    Dalam hal ini perlu juga di kaji bagaimana kalau sudah membaik apakah perlu di kelompokam ke ruanfan khusus , utk yg keadaan membaik dan yang lainya, dan menurut saya sangat perlu melibatkan seluruh perangkat paling dasar bagaimana cara menyediakan tempat isolasi berikut dengan berbagai fasilitasnya, harus memaximalkan pada Dokter dari lingkup terkecil, tenaga kesehatan dan relawan dari lingkup terkecil sampai terpusat., utk pendanaanya selain dari buget terpusat sampai lingkup terkecil ?, pemerintah juga bisa memanfaatkan csr perusahaan2 besar – menengah, semua lini di ajak gotong royong membantu pendanaan utk mengatasi wabah ini,.
    C. Pasien terpapar seperti apakah yang wajib di rujuk di rumah sakit,
    -. Harus di evaluasi prosedur penangananya agar efektif utk mengobati, serta efektif tidak menularkan para pasien yang sebelumnya positif jadi negative, contoh saya punya saudara Dokter, keponakan saya sakit panas batuk pilek, mondok mau di pindah di ruang isolasi utk test PCR, karena punya saudara dokter yg berpangkat jadi pemindahan ruang isolasi tidak di lakukan karena dapat penolakan dari Saudara saya yg dokter, akhirnya alhamdulilah tidak ada test pcr dan swab keponakan saya sembuh dengan sendirinya.
    -. prosedural yg benar2 efektif bagaimana cara memisahkan pasien yg terpapar covid 19 dan pasien yg bukan terpapar covid 29 memang harus ada ketersediaan ruangan yang khusus, dan harus ada ketersediaan fasilitas2 yg standart dan memadai, bagaimana mencari bugetingnya, misal anggaran dari rumah sakit dan pemerintah tidak cukup, banyak perusahaan2 di indonesia yg besar bisa di manfaatkan semakximal mungkin dana csrnya utk penanganan wabah ini di sinergikan dng pencarian sumbangan2 dari negara sahabat.
    -. Evaluasi dan riset lagi secara cepat bisa kerjasama dengan dokter2 ahli dan pakar Kesehatan di indonesia mengenai ketepatan hasil swab dan pcr siapa tahu pada merk terntentu atau pada swab antigen atau pcr itu memang faktanya bukan alat yang paling tepat utk mendiagnosis Virus Covid 19.
    Kesimpulan :
    Dari ke -3 point di atas pemerintah dapat menyimpulkan jumlah kebutuhan fasilitas dan obat2an dan cara merealisasikanya, tentunya dalam rangka merealisasikan segala fasilitas dan obat2 an serta tenaga kesehatan serta pembiayaanya yg tepat dan efisien dalam penanganan lonjakan Covid 19.
    3. Evaluasi lagi Data Stastitik jumlah yang terpapar Covid secara cepat dan efisien serta detail apakah ;
    A. Dari yang terpapar brp persen yg usia balita, muda, setengah baya,
    Dalam artian umur yg paling rentan terpapar di ambil dari hasil riset atau fakta yg di lakukan sendiri ( bukan dari data yang lain ), inilah yg wajib di jaga agar tidak terpapar,
    ( harus ada update informasi dan edukasi tepat dan efisien mengenai hal tersebut yang bisa sampai ke ruang lingkup terkecil, caranya bisa memanfaatkan start up2 teknlogi serta media yg bisa menginfokan informasi tersebut sampai lingkup terkecil hingga masyarakat tidak gagal paham ).
    B. Dari yg terpapar brp persen yg terpapar covid 19 itu yg punya Komorbit atau penyakit bawaan sebelumnya, dalam artian jika seseorang yg punya Komorbit resiko tertularnya lebih banyak, maka harus edukasi khusus tentang kesadaran masyarakat dalam screening kesehatan guna untuk melindungi yg komorbit agar lebig mejjaga kesehatan, perlu adanya fasilitas khusus dari lingkup terkecil seperti klinik puskesmas atau home care khusus yg ekonomi rendah secara gratis, pendanananya balik lagi misal kurang ya gotong royong kerjasama dengan perusahaan besar di indonesia memanfaatkan dana csrnya).
    C. Dari yang meninggal karena covid, mohon di cek lagi secara medis, masif serta fakta.
    – Apakah yang meninggal benar2 karena covid? Atau ternyata dair penyakit bawaan atau komorbid.
    – atau dengan alasan dalam rangka mencegah penularan Covid , yang meninggal ini sebetulnya tidak terpapar covid, tapi di makamkan memakai prosedur Covid, dengan sebab yang banyak sih, misal : karena keluarga pasien tidak punya uang, jadi di makamkan secara prosedur Pasien covid ( gratis atau dapat santunan ), dalam hal ini bisa jadi mungkin masuk di data stastistik menambah jumlah korban yg meninggal karena terpapar Covid ).
    4. Evaluasi lagi pemilihan Vaksin serta realisasi vaksinasi yang sudah di lakukan,
    ( jangan2 pelonjakan covid 19 adalah dari realisasi vaksinasi yang tidak tepat yg menimbulkan kerumunan berlebih atau pemilihan vaksin yang belum tepat utk virus Corona yg katanya akan terus bermutasi misal :
    A. Vaksin apakah yang paling tepat utk masyarakat Indonesia, di lihat dari mutasi Virus delta yg katanya akan terus terjadi mutasi, pemerintah harus libatkan orang2 hebat pakar virus dan dokter2 terkait termasuk mantan Menteri kesehatan Dokter Terawan dan Bu Siti Fadilah dll, yang dalam hal penanganan lonjakan ini sebetulnya pemerintah wajib menerima masukan dari orang2 tersebut sebagai bahan pertimbangan siapa tahu solusi dari para ahli tersebut dapat.menekan pelonjakan penularan Covid 19 yg terus meradang.
    B. Bagaimana cara menyediakan vaksinasi yg tepat dan merata serta efisien tidak menimbulkan antrian dan kerumunan misal adanya pemetaan tempat vaksinasi di bagi dalam beberapa kelompok berdasarkan Zona dari tiap daerah yang terpapar :
    – daerah yg menjadi skala prioritas utk di galakan vaksinasi adalah daerah Zona hitam dan merah dalam artian harus ada ketersediaan tempat yang banyak, aturan alur peserta, serta penjadwalan bagaimana agar tidak terjadi kerumunan,
    ( bisa memanfaatkan balai desa, kelurahan, kecamatan, sekolah , masjid, gereja, gedung serba guna, pemerintahan, ruang mall yang kosong, dll , pengaturan bugetingnya bagaimana yg tepat dan efisien )
    – pemetaan daerah Zona kuning dan hijau tetap di lakukan dengan metode di atas termasuk bugetingnya..
    Kesimpulan :
    1. Pemerintah harus melibatkan para ahli virus, ahli medis termasuk manatan menteri kesehatan, sertaa pakar2 lain di bidang ekonomi, politik dll di luar para menteri untuk menentukan solusi serta kebijakan yang paling efisien dalam rangka menangani wabah Covid 19 yg faktanya akan terus bermutasi ini.
    2. Pemerintah beserta jajaranya harus mendukung apabila ahli2 kesehatan indonesia mampu mandiri membuat Vaksing yg yg secara ilmiah dan fakta mampu mengatasi virus covid 19 ini,
    3. Pemerintah harus berorientasi pada kedaulatan rakyat , NKRI harga mati,
    4. Istilah PPKM darurat sebetulny menurut saya tidak beda jauh dengan lockdown, misal memang akan di lakukan perpanjangan PPKM darurat, mending lockdown total sekalian termasuk penerbangan luar dan lokal di larang di larang beroperasi kecuali utk pengiriman obat dan logistik, peralatan kesehatan serta vaksin, hanya tempat2 urgent yg boleh bukak misal logistik danfasilitas kesehatan.
    Pemerintah wajib Menerapkan uu karantina memang Pemerintah harus menanggung kebutuhan rakyat kalau memberlakukan perpanjangan PPKM darurat.
    Sebetulnya bugetnya bisa di hitung misal utk 10 hari per kk dapat 1jt kalau di kalikan 100jt kk (mencari jmlh kk di indonesia dari goegle ) = 100 Trilyun..( ini memang buget yang sangat tinggi , anggaran terbaru utk kesehatan di indonesia sekitar 500 Trilyun, mungkin bisa di potongkan dari anggarang yg lain yg sifatnya bisa di tund, atau mencari tombol bantuan seperti perusahaan2 yg besar dana csrnya di manfaatkan utk mensuport masyarakat, atau menggalakan utk para jajaran pemerintah berbagi dari hartanya utk menghidupi rakyat ( 10% dari jumlah rakyat indonesia adalah para pejabat pemerintahan baik dari sipil maupun tni polri dll / 25 jt x 2jt = 50 Trilyun )
    Jadi sebetulnya kalau kita bergotong royong saling membantu , insya 4jji bisa mengatasi virus covid 19 ini
    Tentunya dengan melibatkan TUHAN dalam segala hal.
    Semoga TUHAN yang Maha BAIK memberikan kekuatan utk seluruh pejabat dan masyarakat Indonesia khsusunya, serta Dunia agar bisa mengatasi pandemi ini
    Amin.