Takut Gak Jadi Nikah, Janda Ini Enggan Melapor Ke Polisi Setelah Anak Balitanya Dianiaya Oleh Kekasih

  • Whatsapp


 

Bacaan Lainnya

Balita asal Batu, Malang menjadi korban kekerasan kekasih ibunya.

Ibu korban tidak berani melapor karena takut tak akan dinikahi pelaku yang kini sudah ditangkap anggota Polres Batu.

Hal tersebut disampaikan Kapolres Batu, AKBP I Nyoman Yogi Hermawan saat gelar rilis di Polres Batu, Rabu (27/10/2021).

“Takut tidak dinikahi sehingga takut melapor ke polisi,” ungkapnya.

Di sisi lain, Yogi juga memaparkan bahwa motif ekonomi diduga kuat menjadi alasan kekerasan itu terjadi. Pelaku merupakan seorang pengangguran.

Polisi mengamankan salah satu barang bukti berupa bak warna biru. Bak itu adalah tempat mandi korban yang masih berusia 2.5 tahun. Korban sering disiram air panas di bak itu oleh tersangka. 

“Korban dianggap rewel dan beban karena bukan anak biologis,” ujar Yogi.

Air panas itu mengakibatkan luka bakar pada korban. Selain bekas luka bakar, polisi juga mengungkapkan adanya luka bekas gigitan pada jari-jari korban dan sundutan rokok.

Sejauh ini, polisi mengatakan bahwa pelaku yang berusia 25 tahun itu dalam keadaan sadar ketika melakukan kekerasan. Tidak ada keterangan gangguan jiwa pada diri pelaku.

“Pelaku sering melakukan kekerasan saat sendirian,” imbuh Yogi.

Saat ini, korban masih berada di rumah sakit bersama ibunya. Korban dan ibunya mendapatkan pelayanan pendampingan dari psikolog.

Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko telah menjenguk korban dan ibunya di RS Bhayangkara Tingkat IV Polda Jawa Timur, Hasta Brata, Selasa (26/10/2021). Dewanti menjelaskan, kondisi anak dan ibunya sudah mulai membaik.

“Saat kami jenguk, ibunya banyak diam. Justru kami yang banyak bertanya. Kondisinya sudah mulai membaik,” katanya seusai menjenguk korban.

Pemkot Batu berencana untuk mendampingi ibu korban agar ketika kembali ke masyarakat bisa mandiri. Lalu bisa menjaga anaknya dengan baik. Dewanti memang menaruh perhatian terhadap kondisi ibu dan anak pasca menjalani perawatan.

Menurut Dewanti, akan tidak mudah bagi ibu dan anaknya ketika kembali ke tengah-tengah masyarakat.

“Oleh sebab itu, perlu ada pendampingan yang intensif,” ujar perempuan yang juga dosen psikologi tersebut.

Dewanti tidak menceritakan detail kasus yang terjadi sebenarnya. Katanya, kasus tersebut menjadi catatan tersendiri dan akan didalami oleh dinas terkait.

“Tidak semua kasus itu sama, dalam kasus ini ada hal-hal yang menjadi individual. Ibu, perilaku dan kehidupannya harus dilihat secara komprehensif baik secara ekonomi maupun sosial,” kata Dewanti.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan