Bapak Pengantar Galon Ini Tetap Gigih Bekerja Meski Harus Menggendong Anaknya

  • Whatsapp


 

Bacaan Lainnya

Akun Instagram makassar_iinfo mengunggah sebuah video kegigihan seorang bapak pengantar galon yang bekerja sambil menggendong anaknya pada Rabu, 6 Oktober 2021. Bapak tersebut bernama Amiruddin atau yang akrab disapa Udin.

Menggunakan sepeda motor bebeknya, pria berusia 49 tahun itu mengantarkan air galon minum dari rumah ke rumah dengan menggendong anaknya yang masih berusia balita di bagian depan tubuhnya dengan menggunakan kain jarik.

Dalam rekaman video tersebut, Bapak Udin menyinggahi salah satu rumah pelanggannya. Ia terlihat sedikit kesulitan saat hendak mengangkat galon. Namun, ia tetap mengantarkan galon air hingga ke dalam rumah si pelanggan dan tidak menurunkan anaknya. Pekerjaan itu dilakukan Bapak Udin setiap hari.

Pak Udin terpaksa membawa anaknya ikut bekerja karena tidak ada yang menjaga anaknya. Agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga, sang istri juga ikut bekerja sebagai pelayan di sebuah warung kopi. Karena alasan itu, Pak Udin terpaksa harus menjaga anak perempuannya itu.

Pak Udin tinggal bersama istri dan anaknya di sebuah kos-kosan di Jalan Panca Marga, Pare-pare, Sulawesi Selatan. Kamar kos yang mereka tinggali juga tidak memiliki tempat tidur, lemari atau kompor gas. Untuk memasak, istrinya masih menggunakan kompor minyak tanah.

“Saya harus terus tabah hadapi kehidupan, karena ketabahan bisa buat semangat untuk mencari rezeki,” ujar Bapak Udin mengutip akun Instagram ayoberbagimakassar.

Warganet yang melihat kegigihan Pak Udin merasa kagum. Meski tidak memiliki penghasilan tetap, Pak Udin masih gigih dan semangat dalam mencari nafkah. Terlebih, kesabarannya dengan membawa serta anaknya yang tidak mau ditinggal ikut bekerja.

“Salut dengan bapak ini, tetap bekerja walaupun anak dalam gendongan,” balas fathir_i04.

“Sehat selalu pak yang sabar, waktu itu indah. Semoga anaknya menjadi anak sholeh dann soleha. Aamiin,” tulis anda_salon.

“Panjang umur pak dan sukses,” harap putririskiiaaa. Sumber: pastiseru

Pengorbanan Ayah yang Selama ini Jarang Kamu Sadari, tapi Mengharukan Sekali

Baru-baru ini sebuah foto yang memperlihatkan seorang ayah yang mengayuh sepedanya yang sudah reyot mengantarkan sang anak ke sekolah. Anaknya perempuan yang ia bonceng di belakang juga merasa nggak malu meski hanya diantar dengan sepeda tua. Melihat foto tersebut membuat banyak warganet menitikkan air mata dan terharu akan perjuangan dan pengorbanan sang ayah.

Itu hanyalah satu dari sekian potret perjuangan dan pengorbanan sang ayah kepada sang anak. Ia akan melakukan apapun demi anak-anak dan juga istrinya. Meski terlihat sederhana, tapi pengorbanan ayah seperti ini nggak jarang kamu lihat bahkan kamu rasakan sendiri.

1. Saat keinginanmu merantau untuk kuliah begitu kuat, ia mendukungmu meski artinya harus bekerja dua kali lipat

Menuntut ilmu jauh dari rumah seakan menjadi tantangan tersendiri. Apalagi perguruan tinggi yang populer. Rasanya ingin sekali kuliah di sana, meski harus menempuh perjalanan jauh. Ketika kamu mengutarakan keinginan itu, orang tuamu setuju dan mendukungmu. Tapi banyak di RRI.MY.ID kita yang nggak menyadari satu hal. Bahwa terkadang tabungan pendidikanmu nggak sebanyak itu. Tapi orang tuamu lebih mengedepankan keinginanmu, meski artinya mereka harus bekerja lebuh keras, menghemat dua kali lipat, agar pendidikanmu bisa lancar di tanah perantauan.

2. Agar tak membuatmu khawatir, ayah selalu bilang ia baik-baik saja, meski ada penyakit yang disembunyikannya

Sebagai kepala keluarga, ia ingin terlihat tangguh di depan istri dan anak-anaknya. Ayah nggak ingin membuat keluarganya khawatir akan dirinya. Karena ia merasa memiliki tanggung jawab untuk membuat kehidupan keluarganya baik-baik saja. Meski terkadang harus berbohong. Ketika ia merasakan sakit, ia nggak ingin hal tersebut membuatmu atau ibumu khawatir. Ia lebih memilih untuk menyembunyikannya dan mengatakan kalau ia baik-baik saja. Pun kalau terlihat, ia hanya bilang sakitnya ringan, besok udah sembuh. Padahal mungkin saja ia menderita karena penyakit itu.

3. Diam-diam ia mencari pinjaman untuk memenuhi keinginanmu yang mau tak mau ingin ia wujudkan

Nggak semua kita seberuntung orang lain yang tinggal minta uang kapanpun dan berapapun akan langsung dikasih. Sebagian orang tua kita harus berusaha dulu, membanting tulang, sehingga bisa memenuhi kebutuhan hidup. Justru di sanalah letak keberuntungan kita. Memiliki ayah yang mau mengusahakan agar kebutuhan anak istrinya terpenuhi. Bahkan ketika itu hanyalah keinginanmu, bukan kebutuhanmu. Agar tak membuatmu kecewa, ayah diam-diam mencari pinjaman dan mengabaikan malu atau gengsinya. Karena apa? Demi memenuhi keinginan yang terkadang kamu paksakan melebihi kemampuan.

4. Ayah lebih mengutamakan kamu memakai mantel saat hujan, meski ia harus basah kuyup menerobos jalanan

Masa-masa sekolah, apalagi saat momen penting seperti ujian, tak jarang ayah memberikan perhatian lebih padamu. Misalnya saja selalu mengantar jemputmu agar nggak terlambat dan bisa fokus pada ujian. Sebagian ada yang pakai mobil tapi nggak sedikit yang pakai motor. Keduanya sama-sama membuatmu sampai ke sekolah dengan aman. Tapi yang jadi masalah ketika hujan turun dengan derasnya. Apalagi turun ketika sudah di perjalanan. Agar anaknya nggak basah kuyup, ayahmu lebih mengutamakan anaknya yang menggunakan jas hujan, meski ia yang mengendarai motor dalam derasnya hujan. Meski terlihat sederhana dan biasa, ini adalah bukti bagaimana ayah menomorsatukanmu dibanding dirinya sendiri.

5. Masih menggunakan bajunya yang lusuh dan bolong agar kamu bisa beli baju baru yang kekinian

Pernah melakukan percakapan seperti itu dengan ayahmu? Apakah kamu percaya seratus persen kalau memang itu alasan kenapa ayahmu masih menggunakan bajunya yang lusuh? Itu semua bisa jadi karena ia lebih mementingkan memenuhi kebutuhanmu terlebih dahulu. Ia ingin anaknya tampil dengan baju yang bagus dan baru. Melihat anaknya yang senang karena bisa membeli baju yang ia inginkan udah cukup bikin ayahmu juga bahagia.

Meski pengorbanannya berbeda dengan ibu, tapi apa yang ayah usahakan untuk keluarganya juga sangat besar. Hanya saja, ayah lebih pintar menutupi pengorbanannya itu. Atau mungkin karena kita yang menganggap hal itu biasa. Dengan semua pengorbanannya itu, masihkah kamu membuat sedih atau bahkan menyakiti hati ayah? (dari berbagai sumber)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan