Masyarakat Kurang Melek Jaga Data Pribadi, Jadi Tantangan Era Digital

  • Whatsapp
Masyarakat Kurang Melek Jaga Data Pribadi, Jadi Tantangan Era Digital


RRI.MY.ID Data pribadi merupakan informasi penting yang dapat disalahgunakan untuk kepentingan pihak yang tidak bertanggungjawab. Masih banyaknya masyarakat Indonesia yang kurang sadar akan pentingnya menjaga keamanan informasi menjadi tantangan bersama di era digital ini.

Bacaan Lainnya

Edukasi pun dianggap penting guna upaya menjaga kerahasiaan informasi pribadi harus terus dilakukan terhadap seluruh masyarakat di tanah air untuk mencegah terjadinya kebocoran dan pelanggaran data di ranah digital. Hal ini penting untuk mencegah kejahatan siber yang menyasar pemilik data, seperti aksi kriminal membuka akun bank, mendaftarkan pinjaman ilegal, penipuan melalui telepon, hingga melakukan penipuan dalam pemilihan umum.

“Seluruh masyarakat Indonesia harus memahami pentingnya menjaga kerahasiaan data pribadi sekaligus menyadari pentingnya keamanan informasi, khususnya di ranah digital. Keseriusan dan kerja bersama berbagai elemen secara berkelanjutan terutama perusahaan atau lembaga yang memiliki arsip data pribadi masyarakat menjadi kunci dalam mencegah aksi pelanggaran data yang dapat merugikan banyak pihak,” ujar Andri Hutama Putra B.Tech, MIB, CEH, Presiden Direktur ITSEC melalui keterangan resmi di Jakarta, Rabu (16/6/2021). 

Menurutnya seluruh perusahaan dan lembaga milik swasta, pemerintah maupun asing yang bertanggung jawab menjaga informasi pribadi masyarakat, juga harus menyadari bahwa standar keamanan yang sama tidak dapat digunakan selama bertahun-tahun. Salah satu hal penting bagi para pemegang data masyarakat adalah melakukan pemeriksaan menggunakan Penetration Test (Pentest), sebuah metode yang dilakukan untuk mengevaluasi keamanan dari sebuah sistem dan jaringan komputer yang berfokus pada antisipasi serangan siber.

Sementara itu, Atik Pilihanto, JNCIP-SEC, TOGAF, GSEC, GCIH, GCIA, GPEN, Principal Consultant Incident Response & Threat Hunting ITSEC menjelaskan bahwa evaluasi dalam Pentest dilakukan dengan cara melakukan sebuah simulasi serangan yang hasilnya berguna sebagai feedback untuk pengelola sistem dalam memperbaiki tingkat keamanan dari sistem komputer yang menjadi media penyimpan data.

“Tahapan dalam melakukan pentest idealnya meliputi pencarian celah program atau sistem yang rentan, merancang dan mensimulasikan serangan pada titik rentan tersebut, kemudian memasuki dan mempelajari serangan untuk menetralisir atau memulikan data yang terancam,” jelas Atik Pilihanto.  

Atik Pilihanto menyatakan lebih lanjut, metode pentest semakin dibutuhkan di masa sekarang ini seiring dengan meningkatnya kebutuhan untuk melindungi data-data penting di dalam aplikasi atau web perusahaan, khususnya ditengah meningkatnya aktivitas digital karena pandemi global Covid-19. Dengan melakukan pentest, celah-celah keamanan yang ada dapat diketahui dan dengan demikian dapat diperbaiki secepatnya.

” Seorang pentester menyimulasikan serangan yang dapat dilakukan, menjelaskan risiko yang bisa terjadi, dan melakukan perbaikan sistem untuk memperkuat infrastruktur jaringan perusahaan tersebut, ” imbuhnya.

Menurutnya, upaya perlindungan data yang tidak disertai dengan pembaruan teknik perlindungan secara berkala dapat berakibat pada kebocoran data yang masif. Di Indonesia sendiri dugaan insiden kebocoran data juga makin marak baru-baru ini, seperti dugaan kebocoran data akun pengguna di salah satu e-commerce besar di Indonesia pada awal Mei 2020, dugaan kebocoran data BPJS pada bulan Mei lalu dimana pelaku menjual klaim data pribadi 279 juta masyarakat, dan terbaru data penduduk di Magelang yang sempat dirilis secara terbuka di website Pemkab Magelang pada bulan Juni.





Sumber : https://RRI.MY.ID/masyarakat-kurang-melek-jaga-data-pribadi-jadi-tantangan-era-digital

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *