Manusia Hidup Lama karena Tidak Mati Muda

  • Whatsapp


RRI, Oxford: Manusia kemungkinan tidak dapat memperlambat laju penuaannya karena kendala biologis, berdasarkan hasil studi statistik umur primata manusia dan non-manusia.

Studi ini berangkat untuk menguji hipotesis ‘tingkat penuaan invarian’, yang mengatakan bahwa suatu spesies memiliki tingkat penuaan yang relatif tetap sejak dewasa. Kolaborasi ilmuwan internasional dari 14 negara, termasuk José Manuel Aburto dari Oxford’s Leverhulme Centre for Demographic Science, menganalisis data kelahiran dan kematian berdasarkan usia yang mencakup abad dan benua. Dipimpin oleh Fernando Colchero, University of Southern Denmark dan Susan Alberts, Duke University, North Carolina, penelitian ini merupakan upaya besar yang membutuhkan pemantauan populasi primata liar selama beberapa dekade.

Jose Manuel Aburto mengatakan, “Temuan kami mendukung teori bahwa, ketimbang memperlambat kematian, orang hidup lebih lama lebih banyak karena penurunan angka kematian pada usia yang lebih muda. Kami membandingkan data kelahiran dan kematian dari manusia dan primata non-manusia dan menemukan pola umum kematian ini sama pada semuanya. Hal ini menunjukkan bahwa faktor biologis, daripada faktor lingkungan, pada akhirnya mengendalikan umur panjang.”

“Statistik menegaskan bahwa individu hidup lebih lama karena kesehatan dan kondisi kehidupan membaik, yang mengarah pada peningkatan umur panjang di seluruh populasi. Namun demikian, peningkatan tajam dalam tingkat kematian, seiring bertambahnya usia hingga usia tua, jelas terlihat pada semua spesies,” tambahnya, seperti dikutip dari University of Oxford, Kamis (17/6/2021).

“Perdebatan tentang berapa lama kita bisa hidup telah memecah komunitas akademis selama beberapa dekade. Beberapa ahli berpendapat bahwa umur manusia tidak memiliki batas, sementara yang lain mengatakan sebaliknya. Tetapi apa yang hilang adalah penelitian yang membandingkan rentang hidup beberapa populasi hewan dengan manusia, untuk mengetauhi apa yang mendorong kematian. Studi kami menutup celah itu. Kumpulan data yang sangat beragam ini memungkinkan kami membandingkan perbedaan kematian baik di dalam maupun di RRI.MY.ID spesies.”

Tim menganalisis data dari primata, kerabat genetik terdekat kita, dan karena itu kemungkinan besar menjelaskan biologi kita. Tim peneliti menganalisis informasi dari 30 spesies primata, 17 di alam liar dan 13 di kebun binatang, termasuk gorila, babon, simpanse, dan guenon. Dan mereka memeriksa catatan kelahiran dan kematian dari sembilan populasi manusia yang beragam di Eropa abad ke-17 hingga ke-20, Karibia dan Ukraina, dan dua kelompok pemburu pengumpul RRI.MY.ID tahun 1900 dan 2000.

Semua kumpulan data yang diperiksa oleh tim mengungkapkan pola umum kematian yang sama: Risiko kematian yang tinggi pada masa bayi yang dengan cepat menurun di masa muda dan remaja, tetap rendah hingga awal masa dewasa, dan kemudian terus meningkat pada usia lanjut.

José Manuel Aburto mengatakan, “Temuan kami menegaskan bahwa, dalam populasi historis, harapan hidup rendah karena banyak orang meninggal muda. Tetapi seiring perbaikan medis, sosial, dan lingkungan terus berlanjut, harapan hidup meningkat. Semakin banyak orang bisa hidup lebih lama sekarang. Namun, lintasan menuju kematian di usia tua tidak berubah. Studi ini menunjukkan biologi evolusioner mengalahkan segalanya, dan sejauh ini, kemajuan medis tidak mampu mengalahkan kendala biologis ini.”

Tim berharap temuannya akan mengarah pada pemahaman yang lebih besar tentang ekologi dan evolusi berbagai spesies hewan di seluruh dunia dan berkontribusi pada konservasi mereka.





Sumber : https://rri.co.id/go/G1qUgvU

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *