Kegelisahan Para Orang Tua Menjelang PTM 2021/2022


RRI, Jakarta: Rencana pemerintah menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM) pada tahun ajaran baru 2021/2022 di Juli mendatang, ternyata masih mengundang kecemasan para orang tua murid.

Juru bicara Forum Orang Tua Murid, Dewi Julia mengatakan kecemasan itu lantaran melihat bagaimana kesiapan sekolah dalam penerapan protokol kesehatan di tengah kasus Covid-19 yang masih melonjak.

“Saya melihatnya kondisi sekarang ini jumlah masyarakat yang terpapar Covid-19 belum ada penurunan signifikan. Jadi, saya melihatnya dasarnya apa pemerintah buka sekolah,” kata Dewi saat dihubungi RRI.co.id, Sabtu (12/6/2021).

Dewi mengakui bahwa anak-anak memang antusias kembali ke sekolah. Namun, tak dipungkiri ada berbagai kecemasan orang tua atas keamanan dan keselamatan anak dari bahaya tertular Covid-19. 

“Karena banyak hal yang kita pikirkan, jadi implementasinya tidak gampang, kalau kita dengar simulasinya event anak anak itu sudah SMA mungkin sudah bisa diatur tapi saat bertemu teman – temannya bisa jadi buyar prokesnya. Itu yang harus dipikirkan sekolah, lalu bagaimana jam istrirahatnya, bagaimana makannya karena kan kalau makan pasti buka masker, itu yang harus diolah sedemikian rupa,” ujar Dewi

Tak hanya itu, lanjut Dewi, sosialisasi juga harus dimasifkan terlebih dalam kesiapan serta daftar isian yang harus disiapkan sekolah terlebih dalam penerapan protokol kesehatannya.

“Jadi, hal hal kecil dan cukup mendasar harus dapat dilakukan. Lebih baik saran kami perlu sosialisaislebih  intens dan perlu ada simulasi,” kata dia.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (PAUD Dikdasmen) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Jumeri menegaskan, PTM terbatas tidak dilaksanakan secara serentak.

“Masyarakat masih menilai PTM dilaksanakan secara serentak, secara frontal semua murid berbondong-bondong datang ke sekolah bawa tas. Belajar semua di sekolah,” kata Jumeri dalam bincang pendidikan secara virtual dengan tema “Persiapan PTM Terbatas Tahun Ajaran 2021/2022”, Selasa (8/6/2021) petang. 

Jumeri menjelaskan, konsep PTM terbatas yang benar adalah pembukaan sekolah dengan mengendalikan jumlah peserta didik dan membatasi waktu belajar.

“Misalnya, satu rombongan belajar terdiri dari 36 siswa, maka hanya diizinkan masuk 50 persen yakni 18 siswa saja. Bisa saja satu rombel diizinkan seluruhnya masuk, tetapi harus masuk dua ruangan terpisah,” kata Jumeri.

Tak hanya itu, PTM juga bukan mewajibkan anak untuk ikut pembelajaran seharian penuh, namun nantinya pihak sekolah harus mengatur kecepatan serta kebutuhan tiap anak.

“Belajarnya tidak setiap hari,” ucap Jumeri.

PTM terbatas, kata dia, juga wajib mengikuti dinamika perkembangan Covid-19 di setiap satuan pendidikan.

“Pembukaan sekolah pun harus berbasis pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Mikro. Kebijakan PTM terbatas artinya sekolah wajib memberikan opsi kepada orang tua, yaitu PTM terbatas atau pembelajaran jarak jauh (PJJ),” kata Jumeri.

Namun, Jumeri juga mengatakan, pembelajaran pada akhirnya tetap dilakukan secara hibrida (campuran) karena tetap ada pembatasan siswa untuk mengikuti PTM.

“Bagi orang tua yang belum mantap, belum sreg mengantar putra-putrinya ke sekolah, bisa belajar di rumah karena ada dua platform pembelajaran,” pungkasnya.





Sumber : https://rri.co.id/go/E8e88UG

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *