Apakah Hipertensi saat Hamil Selalu Berakhir dengan Pre-eklampsia?

  • Whatsapp
Apakah Hipertensi saat Hamil Selalu Berakhir dengan Pre-eklampsia?


Banyak risiko kesehatan yang harus dihadapi oleh ibu hamil. Tidak hanya energi yang mudah habis terkuras, masalah tekanan darah juga harus diwaspadai. Apalagi bila tekanan darah ibu saat hamil lebih rendah atau tinggi. Kalau tinggi, bisa-bisa ancaman pre-eklampsia menanti. Apa itu pre-eklampsia dan apakah hipertensi saat hamil selalu berakhir dengan pre-eklampsia?

Bacaan Lainnya

 

Apa Itu Pre-eklampsia?

Apa itu pre-eklampsia? Menurut Mayo Clinic, pre-eklampsia adalah masalah kondisi kesehatan ibu saat hamil akibat tekanan darah tinggi. Pre-eklampsia juga ditandai dengan banyaknya kandungan protein pada urine. Penyakit ini baru terdeteksi saat kandungan ibu sudah mencapai 20 minggu usia kehamilan.

 

Pre-eklampsia adalah satu dari tiga kemungkinan kasus hipertensi yang terkait dengan kehamilan. Dua yang lainnya adalah hipertensi gestasional dan hipertensi kronis. Meskipun penyebabnya hingga kini belum diketahui, pre-eklampsia dapat menyebabkan masalah komplikasi serius pada kehamilan dan kelahiran.

 

Siapa yang Berisiko Tinggi Mengalami Pre-eklampsia?

Inilah ibu hamil yang berisiko tinggi mengalami pre-eklampsia:

  • Pernah menderita tekanan darah tinggi kronis atau penyakit ginjal kronis.
  • Pernah mengalami tekanan darah tinggi atau pre-eklampsia pada kehamilan sebelumnya.
  • Termasuk dalam kategori obesitas.
  • Berusia di atas 40 tahun.
  • Hamil anak kembar.
  • Ras Afrika.
  • Berasal dari keluarga dengan riwayat pre-eklampsia.
  • Punya kondisi kesehatan khusus, seperti diabetes, lupus, atau trombofilia. Trombofilia adalah kondisi gangguan yang meningkatkan pembekuan darah.
  • Pernah ikut program fertilisasi in vitro, donor sel telur, atau inseminasi donor.

 

Beberapa Masalah yang Bisa Terjadi karena Pre-eklampsia

  • Pertumbuhan janin jadi kurang baik gara-gara kekurangan nutrisi dan oksigen.
  • Bayi lahir prematur.
  • Bayi lahir dengan berat badan rendah.
  • Stillbirth, kondisi di mana bayi lahir, tetapi sudah dalam keadaan meninggal.
  • Ibu dapat mengalami kerusakan ginjal, hati, otak, serta organ dan sistem darah lainnya dalam tubuh.
  • Risiko penyakit jantung yang lebih tinggi.
  • Eklampsia, yang akan memengaruhi fungsi otak, sehingga dapat menyebabkan kejang-kejang hingga
  • Sindrom HELLP, yaitu saat ibu mengalami kerusakan pada sel hati dan darah. Sindrom ini sangat berbahaya.

 

Gejala-gejala Pre-eklampsia

Inilah beberapa gejala pre-eklampsia:

  • Tekanan darah tinggi.
  • Ditemukan adanya kandungan protein dalam urine.
  • Bila hanya kaki yang bengkak, mayoritas ibu hamil mengalaminya. Namun bila wajah dan tangan ikutan bengkak, sebaiknya waspada.
  • Sakit kepala yang tidak sembuh-sembuh.
  • Gangguan penglihatan, seperti pandangan kabur atau adanya bintik-bintik.
  • Nyeri pada perut kanan bagian atas.
  • Sesak napas.
  • Bisa juga mengalami kejang-kejang, mual, dan muntah. Selain itu, produksi urine juga berkurang. Sindrom HELLP juga gejala tambahan yang harus diwaspadai.

 

Wah, seram sekali ya, Mums? Apalagi bila masih punya anak yang kecil-kecil dan harus diurus. Semoga ini tidak sampai terjadi, ya.

 

Benarkah Hipertensi Selalu Berakhir dengan Pre-eklampsia?

Meskipun tidak terkena penyakit apa pun selama kehamilan, tidak ada salahnya melakukan perawatan prenatal secara teratur. Sedini mungkin malah lebih baik. Bila sudah terdeteksi menderita pre-eklampsia, inilah beberapa tes untuk meminimalkan risiko komplikasi:

  • Tes darah.
  • Tes urine.
  • USG janin.
  • Uji nonstress dan profil biofisik.

 

Bila tidak terdeteksi pre-eklampsia, tetaplah menjaga kesehatan dengan mengurangi konsumsi makanan bergaram dan berkalori. Dalam beberapa kasus, Mums mungkin harus mengonsumsi aspirin berdosis rendah dan suplemen kalsium. Ini berlaku bila Mums berasal dari keluarga dengan keturunan penderita pre-eklampsia.

 

Namun, jangan sembarangan mengonsumsi suplemen kalsium, Mums. Konsultasikan dulu dengan dokter. Bila belum pernah hamil, tetapi punya keluarga dengan sejarah pre-eklampsia, sebaiknya mulai jaga kondisi tubuh. Turunkan berat badan bila perlu dan makan makanan bergizi seimbang. (AS)

 

Referensi

RRI.MY.ID: Pre-eklampsia, Penyakit Akibat Hipertensi Saat Hamil

Mayo Clinic: Preeclampsia

Mayo Clinic: Pregnancy week by week 





Sumber : https://www.guesehat.com/apakah-hipertensi-saat-hamil-selalu-berakhir-dengan-pre-eklampsia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *