Cegah Narkoba, Lapas Madiun Libatkan BNN-Polisi

  • Whatsapp


RRI, Madiun: Lapas Kelas I Madiun bekerja sama dengan Polres Madiun Kota dan Badan Narkotika Nasional (BNN) Nganjuk melakukan razia di blok lapas, Senin (7/6/2021) malam. Penggeledahan difokuskan di dua blok narkoba untuk mengantisipasi peredaran gelap Narkotika dan barang terlarang lainnya yang masuk ke lapas.

Bacaan Lainnya

Kalapas Kelas I Madiun, Asep Sutandar mengatakan, razia yang sama rutin dilakukan seminggu sekali. Namun sifatnya internal. Kali ini, razia dilakukan bersama aparat penegak hukum (APH). Dalam kegiatan itu, petugas gabungan menemukan sejumlah obat-obatan dan senjata tajam (Sajam) yang dibuat sendiri oleh warga binaan pemasyarakatan (WBP).

“Hasil temuannya banyak obat-obatan tapi obat itu sebagian besar berasal dari klinik lapas. Tapi saya tidak tahu siapa pemiliknya yang jelas kita temukan di kamar warga binaan. Kemudian terkait Sajam, ini mayoritas dibuat oleh mereka sendiri bukan berasal dari luar. Yaitu dari sendok, bekas gergaji dan dari bekas korek api yang dijadikan Sajam. Jelas itu tetap kami sita,” ungkapnya.

Dokter Lapas Kelas I Madiun, dr. Yusuf Krisma Freddy membenarkan, bahwa obat-obatan yang berhasil ditemukan petugas gabungan berasal dari Klinik Lapas. Pun seluruhnya tidak ada golongan psikotropika. Namun demikian dirinya tidak mengetahui pasti, obat-obatan tersebut milik berapa orang warga binaan.

“Namanya obat itu tetap berbahaya kalau disalahgunakan. Nah untuk mengurangi kesempatan penyalahgunaan, kami di klinik siatem pemberian dosisnya itu kami berikan harian. Misalkan hari ini sakit gatal, ya kita berikan untuk hari ini. Kalau besok masih gatal diminta untuk datang lagi. Rata-rata memang sakitnya gatal karena penghuni kamar itu melebihi kapasitas otomatis tingkat penularan penyakit akan lebih cepat,” jelasnya.

Sementara itu, dokter umum BNN Nganjuk, dr. Prasetya Rastra Sewakottama menuturkan, selain obat batal, petugas gabungan juga menemukan obat anti alergi, obat batuk pilek dan obat nyeri pada sendi. Untuk temuan ini, pihaknya bisa memaklumi karena obat-obatan tersebut berasal dari Klinik Lapas.

“Kalau dikatakan bahaya, semua obat-obatan itu berbahaya. Tapi akan aman asalkan digunakan di jalur yang benar,” ujarnya.

Untuk memastikan kondisi lapas steril dari peredaran narkotika, sebanyak 24 orang menjalani pemeriksaan tes urin. Terdiri sembilan pegawai atau pejabat lapas serta sampel 15 orang dari total 600-an WBP di 11 kamar yang ada di dua blok narkoba. Hasilnya, seluruhnya dinyatakan negatif. Disisi lain, pihak lapas juga jauh hari mewanti-wanti seluruh WBP agar tidak menggunakan sumber listrik ilegal yang berdampak pada mati atau turunnya daya.





Sumber : https://rri.co.id/go/taJjINO

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *