Ada 5 Posisi Persalinan, Mums Pilih yang Mana?

  • Whatsapp
Ada 5 Posisi Persalinan, Mums Pilih yang Mana?


Kesuksesan persalinan ternyata bisa ditentukan dari posisi bersalin, Mums. Posisi tersering dan konvensional saat bersalin adalah berbaring. Padahal, ada beberapa posisi bersalin lainnya yang juga bisa dilakukan. Kenali yuk, beberapa posisi bersalin beserta kelebihan juga kekurangannya, sebagaimana diringkas dari buku 9 Bulan yang Penuh Keajaiban karya Annia Kissanti.

Bacaan Lainnya

 

Baca Juga : Senam Hamil untuk Mempermudah Persalinan 
 

5 Posisi Persalinan

Berikut lima posisi persalinan yang paling umum yang perlu Mums ketahui:

 

1. Posisi Berbaring (Litotomi)

Posisi ini merupakan posisi persalinan normal yang paling lazim dilakukan. Ibu hamil diminta untuk telentang dengan menggantungkan kedua paha pada penopang khusus untuk bersalin.

 

Kelebihan :

Posisi ini memudahkan dokter dan tim rumah sakit untuk memeriksa kondisi pembukaan jalan lahir. Perangkat untuk memantau persalinan pun dapat mudah dipasangkan. Persalinan pun bisa diprediksi lebih akurat. Bila diperlukan tindakan dengan alat bantu forcep atau vakum untuk memabantu kelahiran bayi, dokter pun lebih leluasa melakukannya.

 

Kekurangan :

Posisi ini berpotensi meningkatkan tekanan sehingga ibu hamil cenderung merasa pegal. Gaya berat tubuh ibu hamil yang berada di bawah paha, kadang justru menyulitkan saat ibu mengejan. Tekanan saat mengejan tidak sepenuhnya ke bawah. Otot-otot pinggul sebenarnya juga perlu diangkat sehingga posisi litotomi ini malah mempersempit mulut rahim.

 

Seringkali ibu  merasa sudah akan melahirkan, tapi ternyata belum. Tim dokter juga perlu mengantispasi peluang terjadinya peregangan perineum (daerah RRI.MY.ID anus dan vagina) akibat posisi ini.

 

Letak pembuluh besar yang berada di bawah posisi bayi, juga dapat tertekan oleh massa bayi. Terlebih jika letak plasenta juga berada di bawah bayi. Kondisi ini akan memicu tekanan pada pembuluh darah menjadi tinggi dan menimbulkan perlambatan peredaran darah pada ibu. Pengiriman oksigen melalui darah yang mengalir dari ibu ke janin melalui plasenta pun relatif berkurang. 

 

2. Posisi Setengah Duduk

Posisi setengah duduk juga merupakan posisi yang umum diterapkan di rumah sakit atau klinik bersalin. Pada posisi ini, ibu hamil akan duduk sambil bersandar pada sebuah bantal yang disisipkan di belakang punggung. Kaki ditekuk sehingga kedua paha terbuka.

 

Kelebihan :

Posisi ini membuat ibu hamil merasa lebih rileks karena punggung ibu ditopang lebih baik. Posisi ini memudahkan dokter atau bidan dalam membantu proses kelahiran dan mendapatkan bantuan dari gaya gravitasi bumi. Selain itu jalan lahir yang di tempuh bayi untuk keluar menjadi lebih pendek dengan suplai oksigen dari bunda ke janin dapat berjalan dengan optimal. Posisi ini pun lebih kondusif bagi ibu hamil yang ingin meminta pasangan untuk memijat punggungnya. 

 

Kekurangan :

Posisi ini bisa menyebabkan keluhan rasa pegal di punggung serta kelelahan, khususnya jika proses persalinan berlangsung lama. Posisi semi-sitting juga agak memberikan kesulitan bagi tim medis untuk memeriksa perkembangan proses melahirkan.

 

3. Posisi Jongkok (Squatting)

Posisi ini sangat memanfaatkan gaya gravitasi. Ibu hamil bersiap dalam posisi jongkong, saat mulut rahim terbuka dan masuk fase pembukaan. Dengan posisi seperti itu, bagian pinggul akan agak miring. Berat bayi akan menekan ke bawah serta memberikan kekuatan. Agar stabil dalam posisi jongkok, suami atau pendamping persalinan harus mendukung pundak dan menjadi sandaran bagian belakang tubuh ibu hamil. Bidan atau dokter akan berlutut untuk menangkap tubuh bayi ketika  lahir. 

 

Kelebihan :

Posisi yang menguntungkan berkat pengaruh gravitasi ini, memudahkan ibu hamil untuk  bernapas dan berkonsentrasi. Tekanan dari bayi memberi kekuatan ke bawah secara otomatis sehingga mempercepat proses kelahiran. Posisi ini menguntungkan karena berkat pengaruh gravitasi  tubuh, ibu tak harus bersusah-payah mengejan. Bayi akan keluar lewat jalan lahir dengan sendirinya. 

 

Kekurangan:

Posisi ini membebani punggung dan lutut ibu hamil. Sementara bagi dokter atau bidan, posisi ini juga menyulitkan untuk melakukan pemeriksaan pada jalan lahir. Bila tidak disiapkan dengan baik, posisi jongkok amat berpeluang membuat kepala bayi cedera, sebab bayi bisa “meluncur” dengan cepat. Supaya hal ini tidak terjadi, biasanya sudah disiapkan bantalan yang empuk dan steril untuk menahan kepala dan tubuh bayi.

 

Baca Juga : Pelajari Teknik Olah Napas Untuk Ibu Hamil
 

4. Posisi Berdiri (Standing)

Pendapat bahwa posisi berbaring di tempat tidur merupakan posisi persalinan terbaik merupakan persepsi yang paling salah besar. Posisi berdiri yang membiarkan tubuh tetap tegak dapat memudahkan ibu hamil untuk mengatasi kontraksi. Ibu dan bayi pun lebih siap dalam menjalani persalinan karena  posisi ini merangsang bayi untuk turun ke rongga panggul.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil yang memilih posisi berdiri dapat menjalani waktu persalinan paling cepat serta cenderung tidak membutuhkan anestesi pengurang nyeri kontraksi seperti epidural. Jika ingin melahirkan dengan posisi ini, ada baiknya Mums sedikit berjalan-jalan sebelum masuk ruang bersalin. Tentunya aktivitas tersebut dibolehkan jika kondisi Mums belum mengalami pecah ketuban, ya.

 

Jika waktu melahirkan sudah terasa hampir tiba, masuklah ke ruang bersalin. Berpeganglah pada tiang, dinding, kursi atau bertumpu pada tangan suami. Lebarkan kaki sedikit untuk memberi jalan bayi . Pada prakteknya, posisi berdiri juga bisa dilakukan dengan setengah jongkok sambil mengejan. Dokter atau bidan harus sudah siap dengan posisi berlutut atau berjongkok untuk menangkap bayi.  

 

Kelebihan :

Posisi yang selaras dengan gravitasi bumi ini dapat mengurangi rasa tidak nyaman ketika melahirkan. Gaya gravitasi yang memungkinkan tulang panggul terbuka dan bayi turun melewati jalan lahir, membuat proses melahirkan lebih mudah. Konsentrasi dan tenaga yang dikeluarkan oleh ibu hamil pun lebih kuat dan terarah sepenuhnya ke bawah.

 

Posisi berdiri tegak memungkinkan ibu hamil untuk tidak pasif dan lebih leluasa bergerak untuk mengalihkan perhatian saat mengalami  kontraksi. Di sisi lain,  gerakan-gerakan kecil yang dilakukan ibu, ikut membantu bayi bergerak mendekati jalan lahir.

 

Dengan berdiri, pasangan atau pendamping persalinan pun dapat mengusap punggung, memeluk, atau menjadi sandaran tubuh bagi ibu hamil. Posisi persalinan ini menjadi kearifan lokal yang lazim diterapkan oleh masyarakat di Indonesia Timur serta wilayah Tiongkok. 

 

Kekurangan :

Dokter atau bidan agak kesulitan bila harus memantau perkembangan pembukaan rahim. Dokter dan semua tim yang menangani persalinan harus sigap, agar jangan sampai bayi “meluncur” terlalu cepat hingga cedera. Untuk mencegah terjadinya hal ini, biasanya sudah disiapkan bantalan yang empuk dan steril untuk menahan kepala dan tubuh Si Kecil. 

 

5. Posisi Berbaring Miring (Lateral)

Posisi lateral mengharuskan ibu hamil berbaring miring ke kiri atau ke kanan. Salah satu kaki diangkat sedangkan kaki lainnya dalam keadaan lurus. Biasa dilakukan bila posisi kepala bayi belum tepat di jalan lahir. Berbaring bisa membuat ibu hamil merasa  rileks dan meredakan nyeri kontraksi.

 

Saat berbaring di sisi tubuh kirimu, selipkan bantal di RRI.MY.ID lutut. Hal ini bisa memberi kenyamanan. Berbaring di sisi kiri tubuh bisa mendukung peredaran darah bagi ibu hamil. Jika Mums merasa posisi ini  tidak nyaman bagi bayi, gantilah posisi dengan  berbaring di sebelah kiri. Posisi ini bisa diterapkan pada penghujung tahapan pertama persalinan, sebelum menuju proses tahapan kedua yaitu mengejan.

 

Kelebihan :

Manfaat dari posisi miring, adalah membuat pasokan oksigen dalam darah  ibu hamil untuk si Kecil melalui plasenta, tidak terganggu. Karena posisi ini tidak terlalu menekan, proses pembukaan berlangsung perlahan-lahan sehingga persalinan relatif lebih nyaman. Dengan posisi miring, peredaran darah ibu hamil pun lancar sehingga ibu lebih bisa menghemat energi.

 

Kekurangan:

Posisi ini membuat dokter/bidan sedikit kesulitan membantu proses persalinan. Kepala bayi lebih sulit dipegang atau diarahkan. Bila terjadi kondisi yang mengharuskan tindakan episiotomi, posisinya pun lebih sulit.

 

Demikian beberapa rekomendasi untuk posisi persalinan. Ada baiknya jika Mums mencoba posisi-posisi tersebut sebelum waktunya Si Kecil lahir. Setelah menemukan posisi paling nyaman, konsultasikan dengan bidan atau dokter kandungan yang akan membantu Mums saat melahirkan nanti. Mums pun jadi bisa mengetahui pendapat juga pertimbangan mereka mengenai posisi bersalin yang Mums pilih.

 

Selamat berlatih, Mums! Semoga Si Kecil lekas lahir.

 

Baca Juga : Ragam Metode Persalinan yang Bisa Mums Pilih

Sumber:

Mac Arthur. 5 LABOR POSITIONS TO HELP YOUR BABY COME OUT. September 2020.
PregnancyBirthBaby. Positions for labour and birth. Februari 2020.

 

 





Sumber : https://www.guesehat.com/berbagai-macam-macam-posisi-bersalin

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *